Hari Ketiga Asesmen Lapangan aUGGp, Dua Asesor UNESCO Kunjungi Geosite Kebun Blimbing hingga Kampung Samin
Bojonegorokab.go.id – Hari ketiga asesmen lapangan dan validasi Aspiring UNESCO Global Geopark (aUGGp) Bojonegoro, Kamis (30/7/2026), menjadi momen bagi dua asesor UNESCO untuk mengenal lebih dekat kekayaan hayati dan budaya yang dimiliki Bojonegoro. Tim asesor menikmati hasil pertanian lokal, melihat inovasi pendidikan, hingga mempelajari warisan budaya masyarakat Samin.
Perjalanan diawali di Biosite Kebun Belimbing Ngringinrejo. Di lokasi ini, asesor Mr. Andreas Josef Schuller dari Jerman dan Ms. Li Yue dari China diajak menyusuri hamparan kebun belimbing sambil mendengarkan penjelasan mengenai pengelolaan agrowisata yang telah berkembang menjadi salah satu destinasi unggulan di Bojonegoro.
Suasana semakin hangat ketika keduanya menikmati buah belimbing segar yang disajikan bersama bumbu rujak gula merah. Perpaduan rasa manis dan segar itu rupanya meninggalkan kesan tersendiri bagi Mr. Andreas.
"It's delicious. I think this place is already very well managed, and I hope it will become even more successful in the future," ujar Mr. Andreas Josef Schuller.
Dari Kebun Belimbing Ngringinrejo, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Museum 13 Panjunan, Kalitidu. Kedatangan para asesor disambut meriah oleh para siswa yang dengan antusias memperkenalkan museum beserta koleksi yang mereka miliki. Kedua asesor tampak menyimak setiap penjelasan, sesekali mengamati koleksi museum dan berdialog dengan para siswa.
Bagi Ms. Li Yue, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang istimewa. Ia mengaku belum pernah menemukan sekolah dasar yang memiliki museum edukasi seperti di Bojonegoro.
"I have never seen an elementary school like this before. I am truly amazed," ungkap Ms. Li Yue.
Rangkaian kunjungan hari ketiga ditutup di Kampung Samin. Di lokasi ini, para asesor diajak mengenal lebih dekat sejarah dan filosofi hidup masyarakat Samin yang diwariskan secara turun-temurun. Mereka mempelajari silsilah keturunan, menyaksikan pertunjukan musik tradisional, hingga melihat secara langsung proses membatik yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat.
Kunjungan tersebut menunjukkan bahwa Bojonegoro tidak hanya memiliki kekayaan geologi, tetapi juga keanekaragaman hayati serta warisan budaya yang hidup dan berkembang bersama masyarakat. Ketiga unsur tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan Geopark Bojonegoro menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.[zul/nn]