Beranda
Regulasi

PPID Pelaksana

Pilih Grup PPID Pelaksana

Lestarikan Kesenian Tradisional, Dalang Muda dari Punggur-Purwosari Konsisten Ajari Anak-anak Seni Gamelan

Oleh: Layanan PPID Kategori: Informasi Berkala Dilihat: 5 kali
Gambar utama untuk artikel: Lestarikan Kesenian Tradisional, Dalang Muda dari Punggur-Purwosari Konsisten Ajari Anak-anak Seni Gamelan
Gambar utama artikel Lestarikan Kesenian Tradisional, Dalang Muda dari Punggur-Purwosari Konsisten Ajari Anak-anak Seni Gamelan

Bojonegorokab.go.id โ€“ Di tengah budaya modern, ternyata tak generasi muda menjauhi kesenian tradisional. Salah satu buktinya, Ki Ngesti Adi Anggoro seorang dalang muda asal Desa Punggur, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro. Pria yang akrab disapa Angga tersebut tidak hanya menekuni seni pedalangan, tetapi juga aktif mengembangkan kesenian tradisional di lingkungan tempat tinggalnya.

Melalui Sanggar Seni Sekar Jati yang didirikannya, Angga turut melatih anak-anak dan remaja dalam seni gamelan di Desa Punggur. Desa Punggur sendiri dikenal sebagai salah satu desa yang memiliki banyak seniman, khususnya di bidang pedalangan dan gamelan. Lingkungan tersebut turut membentuk kecintaan Angga terhadap dunia pewayangan sejak usia dini.

Ketertarikannya terhadap wayang bahkan sudah muncul sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, Angga kecil rela menyisihkan uang sakunya untuk membeli kardus yang kemudian dibuat menjadi wayang sederhana. Wayang tersebut dimainkan sendiri sebagai bentuk kegemarannya terhadap dunia pewayangan.

Kecintaannya terhadap seni tradisi terus berkembang hingga akhirnya Angga memiliki seperangkat gamelan. Peralatan tersebut kemudian tidak hanya digunakan untuk berlatih sendiri, tetapi juga menjadi sarana bagi anak-anak dan remaja di desanya untuk belajar gamelan.

Di tengah kesibukannya menempuh pendidikan, Angga tetap konsisten mengembangkan kemampuannya. Ia saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester V di IKIP PGRI Semarang dan juga mengajar Bahasa Jawa di SMPN 2 Purwosari.

Sebelumnya, Angga sempat menempuh pendidikan di ISI. Namun, pandemi COVID-19 membuat proses pendidikannya terhenti. Semangat untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang seni kemudian membawanya melanjutkan pendidikan di IKIP PGRI Semarang.

Pengalamannya sebagai dalang juga terus bertambah. Angga telah tampil dalam berbagai pagelaran, baik di Kabupaten Bojonegoro maupun di luar daerah. Salah satu penampilannya dilakukan dalam pagelaran wayang kulit dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Punggur.

Menariknya, pagelaran tersebut tidak hanya menjadi panggung bagi seorang dalang. Kegiatan itu sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat Desa Punggur dan sejumlah desa lain di Kecamatan Purwosari untuk terlibat langsung dalam pertunjukan seni tradisional.

Sebagai dalang muda, Angga memiliki ciri khas dalam memainkan lakon dan membawakan cerita pewayangan. Baginya, wayang bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga media untuk mengenalkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda.

Komitmennya terhadap pelestarian seni tradisi juga diwujudkan melalui keinginannya membuat kegiatan seni yang melibatkan masyarakat secara lebih luas. โ€œSaya punya cita-cita ingin membuat festival seni yang melibatkan anak-anak serta melatih ibu-ibu juga agar punya keahlian dan bisa ikut tampil di lingkungan,โ€ ujar Angga.

Cita-cita tersebut menunjukkan bahwa pelestarian kesenian bagi Angga tidak berhenti pada kemampuan menjadi dalang. Ia ingin seni tradisional menjadi ruang bersama yang dapat melibatkan berbagai kelompok masyarakat sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat.

Camat Purwosari Ike Widiyaningrum mengapresiasi minat, bakat, dan kegigihan Angga dalam mempertahankan sekaligus mengembangkan kesenian tradisional.

Menurut Ike, saat ini tidak banyak pemuda yang memiliki kepedulian dan konsistensi untuk menekuni kesenian tradisional. Karena itu, kiprah Angga menjadi contoh bahwa kecintaan terhadap seni dapat menjadi salah satu pintu bagi pemuda untuk berkembang dan meraih kesuksesan.

โ€œKami sangat bangga dan mengapresiasi minat, bakat, serta kegigihan Angga terhadap kesenian wayang. Tidak banyak anak muda yang memiliki kepedulian seperti ini,โ€ ungkap Ike.

Ia juga mengapresiasi langkah Angga yang secara aktif melatih anak-anak desa dalam seni gamelan. Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan kesenian tradisional agar tetap dikenal dan diminati generasi berikutnya. โ€œYang lebih membanggakan, Angga tidak hanya tampil sendiri, tetapi juga mau berbagi ilmu dengan anak-anak. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga kesenian tradisional agar tidak terputus di generasi berikutnya,โ€ tambahnya.

Kiprah Ki Ngesti Adi Anggoro menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari langkah sederhana di lingkungan desa. Dari wayang kardus yang dimainkan sejak kecil, kini Angga tumbuh menjadi dalang muda yang tidak hanya tampil di berbagai panggung, tetapi juga berupaya menciptakan ruang belajar dan regenerasi seniman di desanya.

Semangat tersebut menjadi modal penting bagi Desa Punggur untuk terus mempertahankan identitasnya sebagai salah satu kantong kesenian tradisional di Kecamatan Purwosari sekaligus melahirkan generasi baru yang mencintai budaya daerah.[fif/nn]


Asisten PPID

Online